Nasib Gajah dan Harimau di Tengah Karhutla Way Kambas

Momen kegiatan. Foto: Istimewa

BlogGua, Lampung Timur — Amukan si jago merah telah menghanguskan sekitar 6.984 hektar kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) sepanjang tahun 2026. Kendati bencana yang dipicu cuaca ekstrem El Nino ini berdampak luas, Pemerintah Provinsi Lampung memastikan habitat satwa kunci di sana masih dalam kondisi aman.

Komitmen pemulihan serta pengetatan mitigasi tersebut ditegaskan oleh Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, saat menerima Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI di suaka alam tersebut, Kamis (3/9/2026).

Wagub Jihan mengungkapkan bahwa insiden terkini pada 26 Agustus lalu menjadi tantangan yang sangat serius. Keterbatasan akses kendaraan dan minimnya sumber air di lapangan sempat menyulitkan tim gabungan. Namun, berkat sinergi cepat TNI, Polri, BNPB, BPBD, serta bantuan 20 kali water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dari pusat, titik api utama berhasil dikendalikan dalam sehari.

"Berdasarkan pantauan kamera drone, saat ini masih ada beberapa titik panas di lahan gambut yang berpotensi memicu kobaran susulan. Karena itu, koordinasi seluruh pihak sangat krusial," ujar Wagub Jihan. 

Ia pun berharap kedatangan parlemen pusat ini menjadi momentum untuk memperkuat dukungan anggaran sarana prasarana di Lampung.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Abdul Haris Almashari, menegaskan bahwa TNWK adalah benteng keanekaragaman hayati Indonesia yang tidak boleh dibiarkan terancam saban tahun.

"Penyelamatan wilayah ini butuh sinergi total antara Kementerian Kehutanan, pemda, aparat hukum, hingga masyarakat sekitar. Kami hadir untuk mengidentifikasi kebutuhan anggaran agar fungsi pengawasan berjalan optimal," tegas Abdul Haris.

Sementara itu, Kepala Balai Besar TN Way Kambas, Zaidi, memaparkan bahwa puncak bencana terparah terjadi pada Agustus akibat angin kencang. Kasus besar terakhir pada 27–28 Agustus melahap 912 hektar sektor utara sebelum akhirnya padam total pada pukul 18.45 WIB setelah pengerahan pasukan massal.

Walau dampaknya masif, Zaidi membawa kabar baik mengenai kondisi fauna liar yang menjadi ikon lokasi tersebut.

"Kami pastikan populasi satwa kunci seperti Harimau Sumatra (sekitar 12 ekor), Gajah Sumatra (150–200 ekor liar, 63 jinak), serta Badak Sumatra tetap terpantau sehat dan berada di zona aman," jelas Zaidi.

Guna mencegah kejadian serupa terulang, pihak pengelola kini memperketat patroli, membangun sekat pembatas, dan siap mengambil tindakan hukum tegas terhadap pelaku perburuan liar yang kerap memicu percikan api. Sesuai arahan Gubernur Mirza, posko bersama akan terus disiagakan secara intensif minimal hingga Oktober mendatang sampai kemarau mereda.

Agenda ini juga diikuti oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Hanan A. Rozak, Bupati Lampung Timur, Direktur Jenderal KSDAE Satyawan Pudyatmoko, serta jajaran instansi terkait lainnya. (pl)

0 Komentar

Silahkan Komentar