Bupati Way Kanan Hadiri Rakor Tim TPID Provinsi Lampung

Bupati Way Kanan, H. Raden Adipati Surya (duduk-kanan-masker Hitam-berkacamata)

BlogGua, Lampung - Bupati Way Kanan, H. Raden Adipati Surya bersama Asisten Bidang Perekonomian Dan Pembangunan Kussarwono dan Kepala Bagian Perekonomian, Riva Adi Candra menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Tim  Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung di Ballroom Hotel Novotel, Bandar Lampung Lampung, Senin (28/03/2022).

Pada Rapat Koordinasi tersebut mengusung Tema Persiapan Menghadapi Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HDKM) Ramadhan dan Idul Fitri 1443 H dan Diseminasi Hasil Penelitian Komoditas Produk Unggulan Provinsi Lampung.

Diketahui inflasi merupakan angka yang menunjukkan kenaikan harga-harga barang atau jasa secara umum. Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral berusaha menjaga angka tersebut dan menghindari deflasi agar ekonomi suatu negara dapat berjalan dengan lancar. Sedangkan TPID dibentuk berdasarkan pertimbangan bahwa inflasi yang rendah dan stabil merupakan satu sasaran yang ingin dicapai Pemerintah, sebagai bagian dalam upaya menjaga stabilitas makro ekonomi sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM).

Data dan informasi yang dikoordinasikan dalam HLM TPID ini meliputi :

  1. Perkembangan Ekonomi Global Dan Domestik
  2. Perkembangan Ekonomi Regional Dan Provinsi Lampung
  3. Perkembangan Inflasi Nasional
  4. Perkembangan Inflasi Provinsi Lampung
  5. Prospek Inflasi Dan Risiko Inflasi Tw I 2022 & Hbkn
  6. Roadmap Tpid 2022-2023
  7. Rekomendasi

Perbaikan Ekonomi Dunia Berlanjut, Berpotensi Lebih Rendah Dari Prakiraan Sebelumnya, Disertai Ketidakpastian Pasar Keuangan Yang Meningkat, Seiring Dengan Ekskalasi Ketegangan Geopolitik Rusia-Ukraina, Eskalasi ketegangan geopolitik yang diikuti dengan pengenaan sanksi berbagai negara terhadap Rusia mempengaruhi transaksi perdagangan, pergerakan harga komoditas, dan pasar keuangan global, di tengah penyebaran Covid-19 yang mulai mereda sedangkan Pertumbuhan berbagai negara, seperti Eropa, Amerika Serikat (AS), Jepang, Tiongkok, dan India berpotensi lebih rendah dari proyeksi sebelumnya dan Volume perdagangan dunia juga berpotensi lebih rendah dari prakiraan sebelumnya sejalan dengan risiko tertahannya perbaikan perekonomian global dan gangguan rantai pasokan yang masih berlangsung

Prakiraan pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang perbaikan konsumsi RT dan investasi nonbangunan serta tetap positifnya konsumsi Pemerintah dan disisi eksternal, kinerja ekspor diprakirakan tetap baik, meskipun tidak setinggi pertumbuhan pada triwulan sebelumnya, seiring dampak geopolitik dan tertahannya aktivitas perdagangan global. Secara spasial, kinerja ekspor yang tetap kuat terutama terjadi di wilayah Jawa, Sulampua, dan Balinusra serta sejumlah indikator ekonomi hingga awal Maret 2022 tercatat tetap baik, seperti penjualan eceran, keyakinan konsumen, penjualan semen, dan mobilitas masyarakat di berbagai daerah.

Perekonomian Lampung Tumbuh Meningkat pada Triwulan IV 2021 Kinerja perekonomian Lampung pada triwulan IV 2021 tumbuh sebesar 5,15% (yoy), meningkat jika dibandingkan dengan 3,05% (yoy) pada triwulan sebelumnya, didorong oleh peningkatan kinerja LU Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, transportasi dan Pergudangan, dan Pengadaan Air. Secara nominal, perekonomian Lampung pada triwulan IV 2021 berdasarkan ADHK (2010) tercatat sebesar Rp60,32 triliun.

Pertumbuhan ekonomi Lampung terus membaik dan telah kembali ke tingkat pertumbuhan pra-pandemi pada triwulan IV 2022. Pertumbuhan ekonomi Lampung pada keseluruhan tahun 2022 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan tahun 2021, ditopang oleh berlanjutnya pemulihan permintaan domestik di tengah termoderasinya kinerja komponen eksternal. Perkembangan tesebut juga akan tercermin dari peningkatan kinerja LU Pertanian dan LU Industri Pengolahan serta tetap tingginya LU Konstruksi, LU PBE, dan LU Transportasi dan Pergudangan. Namun demikian, pertumbuhan yang lebih tinggi pada triwulan I 2022 diperkirakan tertahan oleh pengetatan mobilitas yang dilakukan pemerintah daerah sebagai antisipasi penyebaran Covid-19 varian omicron, tercermin dari melandainya pertumbuhan IKK, IEK, dan %SBT SKDU.

Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung Februari 2022 tercatat deflasi 0,38% (mtm), lebih rendah dari inflasi IHK Nasional dan Sumatera yang juga mengalami deflasi masing-masing sebesar 0,02% (mtm) dan 0,23% (mtm). Secara tahunan, inflasi Provinsi Lampung tercatat 1,29% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan nasional dan Sumatera yang masing-masing tercatat sebesar 2,06% (yoy) dan 2,31% (yoy). Deflasi bulan ini bersumber dari penurunan harga telur ayam ras karena terbatasnya permintaan akibat peningkatan status PPKM di Provinsi Lampung ditengah pasokan yang relatif stabil. Selain itu, penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) oleh Kementrian Perdagangan turut mendorong penurunan harga komoditas minyak goreng yang berdampak pada deflasi IHK Lampung.

Inflasi inti Provinsi Lampung diperkirakan akan tetap stabil 11 sebab Peningkatan inflasi inti Provinsi Lampung pada triwulan I 2022 diperkirakan tertahan, dipengaruhi oleh tertahannya pemulihan permintaan masyarakat seiring dengan kembali diberlakukannya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 dan level 2 di sejumlah kabupaten/kota. Akan tetapi, dari sisi eksternal, tren peningkatan harga emas sejak triwulan III 2021 dan tappering off menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan harga di kelompok inflasi inti.

Menjelang HBKN Idul Fitri, perlu dilakukan pengawasan intensif dari TPID untuk memastikan ketersediaan dan kecukupan pasokan terutama untuk komoditas yang terkendala pasokannya seperti minyak goreng dan Tekanan inflasi pada kelompok AP triwulan I 2022 diprakirakan akan meningkat seiring dengan adanya kebijakan peningkatan tarif LPG dan Cukai Rokok. Selain itu, adanya ketegangan geopolitik global mendorong harga minyak dunia yang dapat mempengaruhi tekanan inflasi AP ke depan. Selain itu, memasuki periode HBKN Ramadhan dan Idul Fitri terdapat potensi peningkatan harga Angkutan Udara sesuai pola seasonalnya.

Apabila dilihat dari data historis sepanjang tahun 2021, terdapat beberapa komoditas per kelompok (AP, CI, dan VF) yang perlu diberikan perhatian lebih karena berisiko menjadi penyumbang inflasi, terutama minyak gorong, rokok, aneka cabai, tempe dan tahu. Kedepan perlu upaya lebih untuk menjaga stabilitas harga komoditas terkait melalui penguatan implementasi strategi 4K TPID.

Optimalisasi penggunaan PIHPS untuk monitoring harga, pengkinian data neraca pangan, Kerjasama Antar Daerah (KAD) untuk kelancaran distribusi, perluasan penggunaan IoT dalam budidaya pertanian, digitalisasi UMKM pangan pada sisi hilir, dan pelaksanaan pasar murah bersubsidi melalui forum TPID diharapkan dapat menjaga ketahanan pangan Lampung dalam jangka menengah dan untuk Menghadapi HBKN Ramadhan dan Idul Fitri, perlu dilakukan pendataan yang akurat dan terpadu terkait ketersediaan komoditas strategis, serta perlu disusun mekanisme pendistribusian komoditas strategis yang efektif dan efisien. Selain itu, TPID perlu secara rutin melakukan pemantauan harga dan operasi pasar serta terus mengkomunikasikan kepada masyarakat terkait kecukupan komoditas strategis agar tidak terjadi panic buying.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Gubernur Lampung, Ir. H. Arinal Djunaidi, Perwakilan Bank Indonesia, Para Kepala Daerah di Provinsi Lampung, TIPD Kabupaten/Kota Se-Provinsi Lampung, Polda Lampung, Perum BULOG Divre Lampung dan Para Akademisi dari Universitas di Lampung. (kmf)