Petani Metro Ingin Penutupan Aliran Air Batutegi-Argoguruh Ditunda

Suasana diskusi saat Para Petani menyampaikan Aspirasi ke Anggota DPRD

BlogGua, Kota Metro – Lebih kurang, 500 Ha lahan sawah masa tumbuh usia satu bulan terancam gagal panen atau puso. Hal itu disebabkan adanya rencana pemerintah pusat akan menutup akses air dari Batutegi ke areal persawahan Kota Metro, guna mengisi bendungan di Kabupaten Pringsewu.

Mengetahui informasi ini, para petani di Kota Metro menyampaikan keluhan serta harapan petani tersebut dengan mengundang Anggota DPRD Kota Metro fraksi PKS, Ahmadi untuk berdiskusi bersama membahas soal rencana penutupan akses air dan mencarikan solusi terbaik. Pertemuan berlangsung di Kediaman Jumari, Sabtu (14/08/2021).

Dalam pertemuan, mewakili para petani Kecamatan Metro Selatan, Metro Timur dan Metro Barat, Jumari menyampaikan, penutupan aliran air batutegi – argoguruh ke Kota Metro, akan sangat berdampak pada petani di Kota Metro, khususnya Petani Kecamatan Metro Selatan, Metro Timur dan Barat.

Saat ini, lanjut Jumari, tanaman padi di sawah sedang dalam posisi masih berusia satu bulan. Total seluruh luasan 500 Hektar sawah, daerah irigasi sekampung – batanghari. Sementara pasokan air berkurang drastis dengan sistem pembagian air, selama 3 hari sekali, tidak mencukupi.

“Kami para petani berharap kepada Pak Dewan Ahmadi dapat menyampaikan suatu keluhan petani. Kami hanya meminta kebijaksanaan pemerintah pusat dengan solusi terbaik,”ucapnya.

Dikesempatan itu juga, mewakili para petani, Kartiwa mengungkapkan, mengenai bantuan pemerintah untuk perairan lahan pertanian dengan fasilitas sumur bor, juga dikeluhkan. Sebab, lanjut Kartiwa, sumur bor tersebut ada yang dapat difungsikan dan sebagian tidak.

Jikalaupun dipakai sumur bor, tidak akan mampu memenuhi kebutuhan air persawahan, terlebih kapasitas suplay air dari sumur bor sangat kecil, sesuai ukuran pipa 2 inc.

Terlebih, masih kata Kartiwa, rencana penutupan aliran air Batutegi – Argoguruh pada tanggal 15 Agustus 2021 di alihkan ke Bendungan di Pringsewu tersebut, pihak pemerintah terkait akan mewacanakan pengadaan mesim pompa pertanian.

Untuk itu, lanjut Kartiwa kembali, para petani di kota metro keberatan atas kebijakan pompa air persawahan tersebut, terlebih segala kebutuhan pada mesin pemompa air di serahkan atau dibebankan pada petani. Para petani mengakui kesalahan yang menanam padi tidak sesuai dengan jadwal musim dan hitungan suplay air.

“Namun, kali ini meminta kebijaksanaan pemerintah untuk penundaan atas penutupan aliran air ke Kota metro sampai akhir september 2021 mendatang,”ungkap Kartiwa.

Terkait ini, Anggota DPRD Kota Metro, Fraksi PKS, Ahmadi menyampaikan bahwa hal yang disampaikan oleh para petani dalam diskusi, pihaknya akan berupaya memperjuangkannya dan berkoordinasi dengan tim Provinsi Lampung serta Pusat.

“Sebelumnya juga, tim dari DPD RI Dapil Lampung, Abdul Hakim telah mengkritiki hal ini, dan terus berkoordinasi dengan tim yang ada. Dimungkinkan permasalahan ini, fraksi PKS Provinsi Lampung bersama Komisi IV akan melakukan hearing dengan pihak Dinas terkait dalam waktu dekat ini,”pungkas Ahmadi.

Untuk diketahui, luasan lahan persawahan di Kota Metro total lebih kurang seluas 3.200 Ha. Dari luasan tersebut, terbagi dua Daerah Irigasi yakni Batanghari – Bunut dan Sekampung – Bunut.

Daerah Irigasi Sekampung – Batanghari yang terdampak rencana penutupan aliran air pasokan sawah yang saat ini masih masa pertumbuhan padi diatas lahan seluas 500 Ha di Kecamatan Metro Timur, Metro Barat, Metro Selatan. Sample terdampak Persawahan Kelurahan Rejomulyo, Metro Selatan dan Tejosari Metro Timur.

Pasokan atau suplay air dari bendungan Argoguruh – Batutegi ke daerah irigasi sekampung-batanghari sebanyak 1 koma 8 kubik air, kala musim pengolahan tanah masa tanam dan mulai pemasokan menjadi 1 koma 5 kubik air/detik dengan skala 200 sampai 300 liter/perdetik di masa pertumbuhan. Artinya pasokan air dari penanaman, pertumbuhan pengolahan, pasokan berbeda, disesuaikan kala musim.

Secara hitungan pengolahan tanah sawah, tanam dan pertumbuhan hingga pengolahan atau panen, pasokan air secara otomatis berkurang. Karena disesuaikan dengan kondisi jadwal masa tanam, pertumbuhan dan pengolahan.

Dengan jumlah tersebut, selama ini sudah tidak dapat mencukupi kebutuhan air persawahan masa musim tanam tumbuh dan panen. (Red)